KEMERIAHAN TRADISI: Warga RW 10 Jember Kidul Sukses Gelar Pawai Obor Penuh Kehangatan
- Jun 16, 2026
- M. David Kuswara
Jember Kidul [15/07/2026]– Suasana malam di kawasan RW 10 Kelurahan Jember Kidul (JEKI) mendadak riuh dan bercahaya tadi malam. Ratusan warga dari berbagai usia berkumpul dan turun ke jalan untuk menggelar aksi Pawai Obor. Acara yang berlangsung dengan sangat asyik ini sukses membawa kembali nuansa tradisi leluhur yang kental di tengah modernisasi kota.
Sejak pukul 19.00 WIB, antusiasme warga sudah terlihat memadati titik kumpul utama. Berbekal bambu-bambu yang diisi minyak tanah dan sumbu kain, api mulai dinyalakan secara bergantian, menciptakan pemandangan lautan cahaya yang eksotis membelah kegelapan malam.
Ketua RW 10 Jember Kidul menyampaikan bahwa kegiatan ini bukan sekadar jalan-jalan malam biasa, melainkan momentum untuk mempererat tali silaturahmi antarwarga.
"Kami ingin menghidupkan kembali tradisi lama yang mulai jarang ditemui anak-anak zaman sekarang. Nuansa tradisionalnya sengaja kita tonjolkan agar mereka tahu bahwa gembira itu tidak harus dengan gadget, tapi berjalan beriringan membawa obor bersama tetangga itu jauh lebih asyik," ujarnya.
Sepanjang rute pawai, gelak tawa dan obrolan hangat terus terdengar. Tidak ada sekat antara yang tua dan yang muda; semuanya larut dalam kegembiraan yang sama.
Ada beberapa hal menarik yang membuat Pawai Obor RW 10 JEKI tadi malam terasa begitu istimewa dan sarat akan nilai budaya:
- Pakaian Muslim Tradisional: Sebagian besar peserta—terutama anak-anak—mengenakan busana muslim, sarung, dan ikat kepala khas, menambah kental atmosfer tempo dulu.
- Iringan Sholawat: Langkah kaki para peserta diiringi oleh gema selawat yang serempak serta sesekali diselingi lagu-lagu daerah yang membakar semangat.
- Kudapan Tradisional: Di titik finis, warga disambut dengan berbagai hidangan tradisional hangat seperti polo pendem (singkong dan ubi rebus), kacang rebus, dan teh hangat yang dinikmati bersama secara lesehan.
Pawai Obor RW 10 Jember Kidul tadi malam menjadi bukti nyata bahwa di tengah riuhnya perkembangan zaman, warga JEKI tetap kompak menjaga dan merawat tradisi dengan cara yang seru, asyik, dan penuh kedamaian. Acara pun ditutup dengan tertib, menyisakan senyum manis dan kenangan hangat bagi seluruh warga yang terlibat.