Membaca Pancasila di Hari yang Melelahkan: Sebuah Refleksi Personal

  • Jun 01, 2026
  • M. David Kuswara
  • Politik & Kepemerintahan

Setiap tanggal 1 Juni, lini masa kita selalu dipenuhi oleh kepalan tangan, poster garuda megah, dan kutipan-kutipan patriotik. Namun, tahun ini saya memilih untuk duduk diam, menatap ke luar jendela, dan bertanya pada diri sendiri: Di mana posisi Pancasila saat kemanusiaan kita justru sedang bergerak mundur?

Kita harus jujur pada diri sendiri. Kita hidup di era di mana teknologi semakin maju, tetapi empati kita mengalami penyusutan massal. Kita mengalami kemunduran kemanusiaan (dehumanisasi) yang nyata.

Ketika Sila-Sila Berbenturan dengan Realita Era Ini :

Jika saya mencoba mengorelasikan lima pilar negara kita dengan apa yang saya lihat di berita dan media sosial setiap hari, rasanya ada jarak yang sangat lebar:

Tuhan yang Kehilangan Kasih (Sila 1): Kita semakin taat secara ritual, tetapi sering kali kehilangan esensi ketuhanan itu sendiri. Agama dan keyakinan hari ini lebih sering dijadikan senjata untuk menghakimi, mendiskreditkan, dan membenci sesama, ketimbang menjadi kompas moral untuk mengasihi.

Kemanusiaan yang Kehilangan Adab (Sila 2): Ini adalah titik kemunduran paling parah. Di era digital, manusia direduksi menjadi sekadar angka, algoritma, atau target perundungan (cyberbullying). Kita bisa menonton penderitaan orang lain melalui layar gawai sambil mengunyah camilan, tanpa rasa bersalah. Kekerasan fisik, kekerasan seksual, dan hilangnya rasa hormat terhadap hak hidup orang lain terjadi seolah itu hal yang lumrah.

Persatuan yang Rapuh (Sila 3): Kita begitu mudah dipecah belah oleh hoaks, politik identitas, dan ego kelompok. Kita lebih bangga menjadi bagian dari "kubu ini" atau "kelompok itu" ketimbang menjadi bagian dari Indonesia. Ikatan komunal kita terkikis, digantikan oleh individualisme akut.

Musyawarah yang Menjadi Penghakiman Masal (Sila 4): Ruang publik kita tidak lagi mengenal diskusi yang sehat. Yang ada adalah cancel culture, debat kusir penuh caci maki, dan siapa yang bersuara paling keras (atau punya bot paling banyak) dialah yang menang. Hikmat kebijaksanaan telah digantikan oleh viralitas.

Keadilan yang Menjadi Barang Mewah (Sila 5): Ketimpangan sosial semakin menganga. Yang kaya bertambah kuat, yang miskin semakin tersingkir. Hukum kadang terasa tajam ke bawah dan tumpul ke atas. Rasa keadilan sosial kini sering kali harus diviralkan dulu baru mendapat perhatian.

Pancasila: Sebuah Jawaban, Bukan Sekadar Hafalan

Melihat kemunduran ini, saya menyadari satu hal:

Pancasila bukanlah teks kuno yang harus dikeramatkan, melainkan sebuah peringatan keras.

Pancasila dirumuskan oleh para pendiri bangsa bukan saat kondisi kita sedang baik-baik saja, melainkan saat dunia sedang kacau oleh perang dan kolonialisme. Mereka tahu, fondasi terbaik untuk melawan kehancuran moral dan kemanusiaan adalah lima prinsip ini.

Jika hari ini kita merasa kemanusiaan sedang mundur, itu bukan karena Pancasila sudah tidak relevan. Justru karena kita yang terlalu malas untuk membumikannya. Kita hafal urutannya, tetapi kita gagal mempraktikkan rasanya.

Konklusi Personal

Bagi saya pribadi, merayakan Hari Lahir Pancasila di era kemunduran kemanusiaan ini tidak perlu lewat perayaan yang muluk-muluk.

Refleksi terbaik saya adalah memulai dari diri sendiri: kembali memanusiakan manusia di sekitar saya. Berhenti ikut memaki di media sosial, mulai peduli pada tetangga yang kekurangan, dan belajar mendengar tanpa harus langsung menyerang.

Pancasila adalah benteng terakhir kemanusiaan kita sebagai bangsa. Jika benteng ini runtuh karena keegoisan kita masing-masing, maka kita tidak hanya kehilangan negara, tetapi juga kehilangan jiwa kita sebagai manusia.

 

Penulis : M. David Kuswara