Plastik: Si "Remeh" yang Menjerat Napas UMKM Jember Kidul

  • Apr 05, 2026
  • M. David Kuswara
  • Politik & Kepemerintahan , Ekonomi, Keuangan & Bisnis

Jember Kidul [05/04/2026] - Bagi sebagian orang, kenaikan harga plastik mungkin hanya dianggap sebagai "remah-remah" inflasi. Namun, bagi para pedagang kecil di kawasan Jember Kidul—mulai dari penjual gorengan di pinggir jalan hingga pemilik warung kelontong—plastik adalah urat nadi distribusi yang kini terasa mencekik.

Sebut saja Pak Nanang, seorang penjual gorengan yang setiap harinya mangkal tak jauh dari pasar. Wajahnya nampak masygul saat menata tumpukan plastik bening di pojok gerobaknya.

Dulu beli plastik itu tidak pernah masuk hitungan kerugian. Sekarang? Harganya naik pelan-pelan tapi pasti. Kalau saya naikkan harga gorengan, pembeli lari. Kalau ukuran gorengan saya perkecil, pelanggan protes. Akhirnya, biaya plastik ini 'memakan' jatah keuntungan saya," keluh Pak Nanang.

Meskipun terlihat sepele, plastik merupakan komponen biaya variabel yang sulit dihindari. Berikut adalah alasan mengapa kenaikan harga plastik begitu berdampak bagi pelaku UMKM di Jember Kidul:

  • Ketergantungan Tinggi: Hampir semua produk UMKM membutuhkan kemasan, baik itu plastik kiloan, kantong kresek, hingga standing pouch.
  • Efek Domino: Kenaikan harga plastik biasanya berbarengan dengan naiknya harga minyak goreng atau bahan baku lainnya, menciptakan tekanan ganda pada margin keuntungan.
  • Psikologi Pembeli: Di tingkat akar rumput, menaikkan harga Rp500 saja bisa memicu penurunan omzet yang signifikan. Pedagang terpaksa mengorbankan keuntungan pribadi demi menjaga loyalitas pelanggan.

Ibu Siti, pemilik warung makan rumahan, juga merasakan hal yang sama. Ia menyayangkan persepsi masyarakat yang menganggap plastik sebagai barang murahan yang tidak berharga.

"Orang sering minta plastik double kalau bungkus kuah panas, atau minta kresek tambahan buat barang yang sebenarnya bisa ditenteng. Mereka tidak tahu kalau satu lembar plastik itu sekarang nilainya sangat berarti buat kami yang untungnya cuma seribu-dua ribu," tuturnya.

Para pelaku UMKM di Jember Kidul tidak muluk-muluk. Mereka hanya berharap ada stabilitas harga atau setidaknya solusi dari pemerintah daerah, seperti:

  • Edukasi Konsumen: Mengajak warga Jember untuk mulai membawa tas belanja sendiri guna mengurangi beban biaya plastik bagi pedagang.
  • Akses Kemasan Murah: Adanya koperasi atau kolektif UMKM yang bisa menyuplai kemasan dengan harga grosir yang lebih terjangkau.

Bagi warga Jember, mungkin ini saatnya kita mulai tidak "meremehkan" selembar plastik. Dengan membawa kantong sendiri saat jajan di Jember Kidul, kita sudah membantu napas usaha kecil tetap terjaga.