Opini: Doomscrolling Diam-Diam Mencuri Masa Kecil Anak

  • Jul 22, 2026
  • M. David Kuswara
  • Teknologi, Sains & Digital, Sosial, kesehatan & Pendidikan

Ada pemandangan yang semakin sering kita lihat.

Seorang anak sibuk bermain sendiri di ruang tamu. Di sampingnya, ayah atau ibunya juga sama sibuknya—bukan bekerja, bukan membaca buku, melainkan terus menggulir layar ponsel.

Mereka berada di ruangan yang sama, tetapi seolah hidup di dunia yang berbeda.

Doomscrolling tidak hanya membuat orang dewasa lelah secara mental. Kebiasaan terus-menerus mengonsumsi berita dan konten negatif juga diam-diam mengambil waktu yang seharusnya menjadi milik keluarga, terutama anak-anak.

Bagi orang tua, mungkin hanya "lima menit lagi" untuk membaca berita berikutnya. Namun bagi anak, lima menit itu bisa menjadi kesempatan bercerita tentang sekolah, menunjukkan gambar yang baru dibuat, atau sekadar meminta ditemani bermain.

Anak-anak tidak akan selalu mengingat mainan yang dibelikan orang tuanya. Tetapi mereka akan mengingat apakah orang tuanya benar-benar hadir ketika mereka membutuhkan perhatian.

Yang lebih mengkhawatirkan, anak belajar bukan hanya dari nasihat, tetapi dari kebiasaan yang mereka lihat setiap hari. Jika orang tua lebih sering menatap layar daripada menatap wajah anaknya, jangan heran jika suatu saat anak juga melakukan hal yang sama.

Bukan berarti orang tua tidak boleh mengikuti berita atau menggunakan media sosial. Informasi tetap penting. Namun, ada waktu yang jauh lebih berharga daripada semua notifikasi yang masuk: waktu bersama keluarga.

Mungkin kita tidak bisa mengendalikan berita buruk yang terus bermunculan di internet. Tetapi kita bisa mengendalikan kapan harus berhenti menggulir layar dan mulai mendengarkan suara anak yang memanggil, "Ayah...", atau "Bunda..."

Karena masa kecil hanya datang satu kali.

Dan bagi seorang anak, perhatian orang tua adalah kenangan yang akan mereka bawa sepanjang hidup.

Jangan sampai suatu hari nanti, anak mengingat masa kecilnya bukan karena pelukan atau obrolan hangat, tetapi karena wajah orang tuanya yang lebih sering diterangi cahaya layar ponsel daripada senyum untuk keluarganya.