Opini: Doomscrolling, Saat Jempol Terus Bergerak tetapi Pikiran Semakin Lelah
- Jul 22, 2026
- M. David Kuswara
- Teknologi, Sains & Digital, Sosial, kesehatan & Pendidikan
Pernah berniat membuka ponsel hanya lima menit, tetapi tanpa sadar satu jam berlalu? Awalnya hanya ingin melihat kabar terbaru. Lalu muncul berita kecelakaan, konflik, kriminalitas, bencana, hingga berbagai komentar penuh kemarahan. Anehnya, kita terus menggulir layar, meski isi yang dilihat justru membuat hati semakin berat.
Fenomena ini dikenal sebagai doomscrolling—kebiasaan terus-menerus mengonsumsi berita atau konten negatif di media sosial maupun internet. Kita tahu konten itu membuat cemas, tetapi tetap sulit berhenti.
Yang menarik, penyebabnya bukan semata-mata rasa ingin tahu. Otak manusia memang cenderung lebih peka terhadap informasi yang dianggap sebagai ancaman. Dahulu, kemampuan ini membantu manusia bertahan hidup. Kini, di era digital, naluri yang sama membuat kita terus mengejar kabar buruk, seolah takut tertinggal informasi.
Masalahnya, berita negatif tidak pernah benar-benar habis. Saat satu video selesai, algoritma akan menyajikan video berikutnya. Ketika satu berita ditutup, muncul berita lain yang tak kalah mengkhawatirkan. Akhirnya, kita merasa selalu "terhubung" dengan dunia, tetapi justru semakin jauh dari ketenangan diri sendiri.
Tidak sedikit orang yang mengawali pagi dengan membaca kabar buruk dan mengakhiri malam dengan hal yang sama. Tanpa disadari, suasana hati ikut terbawa. Kita menjadi lebih mudah cemas, sulit fokus, cepat marah, bahkan merasa dunia seolah dipenuhi masalah tanpa harapan.
Padahal, dunia tidak hanya berisi tragedi. Di luar layar, masih ada anak-anak yang tertawa, tetangga yang saling membantu, keluarga yang menunggu kita mengobrol saat makan malam, dan matahari yang tetap terbit setiap pagi. Sayangnya, momen-momen sederhana itu sering kalah menarik dibandingkan notifikasi yang terus berdatangan.
Bukan berarti kita harus menutup mata terhadap kenyataan. Informasi tetap penting. Namun, menjaga kesehatan pikiran juga sama pentingnya. Kita berhak mengetahui apa yang terjadi di dunia, tetapi kita juga berhak memberi jeda bagi diri sendiri.
Mungkin sesekali, letakkan ponsel. Hirup udara pagi. Berjalan kaki sebentar. Minum kopi tanpa ditemani notifikasi. Dengarkan cerita orang-orang terdekat. Hal-hal sederhana itu bukan bentuk mengabaikan dunia, melainkan cara menjaga diri agar tetap mampu menghadapi dunia.
Karena hidup yang baik bukan diukur dari seberapa banyak berita yang kita baca dalam sehari, tetapi dari seberapa tenang kita menjalani hari itu.
Kadang, yang paling kita butuhkan bukan informasi baru—melainkan keberanian untuk berhenti menggulir layar dan kembali menikmati kehidupan yang nyata.