Opini: Kita Semakin Pintar Berkomentar, Tapi Semakin Sulit Menghargai Orang Lain
- Jul 17, 2026
- M. David Kuswara
- Teknologi, Sains & Digital, Sosial, kesehatan & Pendidikan
Kemajuan teknologi telah membuat semua orang memiliki panggung. Dengan satu ponsel di tangan, siapa pun bisa menyampaikan pendapat, mengkritik, bahkan menghakimi orang lain dalam hitungan detik. Sayangnya, kebebasan berbicara sering kali tidak diiringi dengan tanggung jawab dalam bertutur kata.
Hari ini, kolom komentar lebih sering menjadi arena pertengkaran daripada ruang diskusi. Perbedaan pendapat dianggap sebagai permusuhan. Kesalahan kecil langsung dihakimi tanpa memberi kesempatan untuk menjelaskan. Bahkan, tidak sedikit orang yang merasa bangga ketika komentarnya viral karena dianggap "paling pedas."
Yang lebih memprihatinkan, budaya menghina mulai dianggap sebagai hiburan. Seseorang bisa kehilangan kepercayaan diri, pekerjaan, bahkan kesehatan mental hanya karena ribuan komentar negatif dari orang-orang yang bahkan tidak mengenalnya.
Padahal, kritik tidak harus melukai. Perbedaan pendapat tidak harus berujung pada kebencian. Bangsa yang besar bukanlah bangsa yang semua warganya sepakat, melainkan bangsa yang mampu berbeda pendapat tanpa kehilangan rasa hormat.
Media sosial seharusnya menjadi tempat bertukar gagasan, berbagi inspirasi, dan membangun solidaritas. Bukan ruang untuk menjatuhkan sesama demi mendapatkan perhatian atau jumlah pengikut.
Sudah saatnya kita mengubah cara berinteraksi di dunia digital. Sebelum menulis komentar, tanyakan satu hal sederhana: Apakah kata-kata ini akan memperbaiki keadaan, atau justru memperburuknya?
Karena jejak digital akan selalu tersimpan. Tetapi yang lebih lama dikenang adalah bagaimana kita memperlakukan orang lain.
Di era ketika semua orang bebas berbicara, sopan santun justru menjadi nilai yang paling mahal.